Sejarah Terbentuknya BPUPKI
Nasional PeristiwaAuthor admin - November 11, 20140
Sejarah terbentuknya BPUPKI tidak lepas dari masa pendudukkan Hindia-Belanda oleh Jepang pada bulan Maret 1942 hingga berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945. Pada periode penundukkan oleh Jepang ini, banyak hal-hal yang berperan besar dalam terbentuknya Indonesia di masa depan, salah satunya adalah pembentukan BPUPKI yang merupakan singkatan dari Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.
Sejarah BPUPKI
Pada tahun 1941, Jepang di medan Perang Dunia II melakukan beberapa serangan terhadap daerah Inggris dan Amerika, termasuk penyerangan besar-besaran terhadap Pearl Harbor, pendaratan tentara Jepang di Thailand dan Malaya, hingga perang Hong Kong. Seluruh hal tersebut menyebabkan Amerika, Inggris, Tiongkok, Australia, dan negara lain yang tergabung dalam pasukan Sekutu menyatakan perang terhadap Jepang. Pernyataan perang ini kemudian diikuti oleh embargo minyak oleh Amerika, memaksa Jepang untuk mencari lokasi yang bisa menghasilkan minyak bagi mereka, dan tibalah mereka di Indonesia. Pendaratan pasukan Jepang di Indonesia inilah yang kemudian akan menggoreskan tinta pertama dalam sejarah terbentuknya BPUPKI.
Suksesnya pendaratan Jepang ke Indonesia secara tidak langsung adalah berkat Jerman, dimana pada saat itu pihak Belanda sedang kewalahan menghadang pasukan Jerman yang berniat menduduki negara mereka. Karena hal itu, hanya butuh waktu kurang dari tiga bulan sejak penyerangan Jepang pertama kali ke Kalimantan sebelum akhirnya seluruh tentara Belanda mampu diusir oleh tentara Jepang. Pada awalnya, tentu pihak Indonesia menyambut hangat kedatangan Jepang tidak hanya karena mereka mengusir Belanda yang sudah lama menjajah Indonesia, tapi juga dengan jargon 3A Jepang serta membawa nama “saudara tua” Indonesia.
Sejarah terbentuknya BPUPKI belum akan tertulis pada masa-masa awal pendudukkan Jepang di Indonesia, dimana pada masa awal tersebut pendudukkan oleh Jepang tidak terasa menyakitkan. Beberapa pemimpin dan politisi Indonesia bahkan bekerja sama dengan pihak Jepang dimana Jepang membiarkan elit lokal tetap berkuasa dan hanya menggunakan mereka sebagai suplai perindustrian Jepang dan sesekali sebagai tambahan pasukan. Kerja sama antara Indonesia dan Jepang ini membuat pihak Jepang mampu memfokuskan perhatian mereka untuk mengamankan jalur laut dan udara Indonesia sebagai benteng pertahanan mereka melawan pihak sekutu. Pada saat itu, Jepang membagi Indonesia menjadi tiga bagian, yaitu Sumatera yang dipimpin oleh Tentara ke-25, Jawa dan Madura dibawah Tentara ke-16, dan Kalimantan serta Timur Indonesia oleh Angkatan Laut ke-2.
Penjajahan ini memiliki efek yang berbeda pada setiap orang tergantung dimana posisi mereka tinggal dan apa jabatan mereka. Orang-orang yang tinggal di daerah yang dinilai penting dalam perang, merasakan penyiksaan, dijadikan budak pemuas nafsu se*s para tentara, penahanan, pengeksekusian, dan kejahatan perang lainnya. Ribuan masyarakat Indonesia juga diambil secara paksa dan dibuat menjadi buruh yang disebut romusha untuk mengerjakan proyek-proyek militer Jepang seperti misalnya rel kereta Burma-Siam. Ada sekitar 4 hingga 10 juta romusha dari Jawa, dan banyak dari mereka yang tewas karena kelaparan dan perawatan yang buruk oleh pihak militer Jepang. Dari seluruh jumlah romusha dari Jawa ini, sekitar 270000 jiwa dikirim ke area lainnya yang diduduki Jepang, dan hanya 52000 yang berhasil kembali dengan selamat.
Meskipun banyak persamaan, terutama di bagian penyiksaan, jika tidak lebih parah antara pendudukkan Jepang dan Belanda, ada satu hal yang amat berbeda dan menjadi awal pergerakan kemerdakaan di Indonesia. Pihak Jepang selalu mendorong dan memotori sentimen nasionalistis Indonesia dengan cara membuat institusi-institusi baru milik orang Indonesia dan mempromosikan pemimpin nasionalis baru seperti Sukarno. Keterbukaan ini mulai membuka jalan bagi nasionalisme masyarakat Indonesia, digabungkan dengan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar